konsutanpemetaan.com – Hai, Sahabat konsultan pernah ga sih ngebayangin gimana sih cara sahabat konsultan pastiin suatu lereng itu aman dan nggak bakal longsor tiba-tiba? Apalagi kalo udah mau bangun proyek di area perbukitan atau tanggul bendungan. Nah, salah satu “jagoan” di lab mekanika tanah buat nguji ini namanya Direct Shear Test atau uji geser langsung. Ini tuh tes yang simpel tapi powerful banget buat ngasih sahabat konsultan kunci utama: kekuatan geser tanah.Singkatnya, kekuatan geser tanah ini kayak “daya tahan” tanah sebelum akhirnya ngelepas dan bikin longsor. Kalo sahabat konsultan tau angka ini, sahabat konsultan bisa modeling dan mendesain lereng yang lebih aman. Yuk, kita telusuri langsung cara kerjanya plus contoh hitungannya biar makin clue!
Apa Itu Direct Shear Test?
Direct Shear Test adalah metode laboratorium untuk ngukur kekuatan geser tanah, dengan cara “menggeser” sampel tanah di dalam kotak khusus. Tujuannya: dapetin dua parameter krusial, yaitu kohesi (c) dan sudut geser dalam (φ). Parameter ini nantinya dipakai buat analisis stabilitas lereng, terutama buat prediksi apakah suatu lereng rawan longsor atau nggak.
Dasar Teori Kuat Geser Tanah
Uji geser langsung mengukur kekuatan tanah dengan menekan sampel di kotak geser, lalu menggesernya hingga runtuh. Percobaan diulang dengan tekanan berbeda, lalu hasilnya diplot dalam garis Mohr-Coulomb untuk mendapatkan dua parameter utama: Kohesi (c), kekuatan “lem” alami tanah, umum pada tanah lempung. Sudut Geser Dalam (φ), menunjukkan gesekan internal, dominan pada tanah pasir. Rumus τ = c + σ tan φ menyimpulkannya: semakin tinggi nilai c dan φ, semakin stabil tanah tersebut.
Contoh Perhitungan
Berikut ini contoh perhitungan:
kita udah ngelakuin uji di lab dan dapet data kayak gini dari tiga sampel identik:
| Test No. | Beban Normal (N) | Beban Geser Maksimum (T) | Luas Sampel (A) |
|---|---|---|---|
| 1 | 50 kg | 32 kg | 36 cm² |
| 2 | 100 kg | 55 kg | 36 cm² |
| 3 | 150 kg | 78 kg | 36 cm² |
Langkah 1
Konversi ke Tekanan (Stress)
Tekanan = Gaya / Luas.
-
Uji 1: σ₁ = (50 kg * 9.81 m/s²) / (36/10,000 m²) = 13.6 kPa (sekitar).
τ₁ = (32 * 9.81) / (36/10,000) = 87.1 kPa -
Uji 2: σ₂ = (100 * 9.81) / 0.0036 = 27.2 kPa
τ₂ = (55 * 9.81) / 0.0036 = 149.9 kPa -
Uji 3: σ₃ = (150 * 9.81) / 0.0036 = 40.8 kPa
τ₃ = (78 * 9.81) / 0.0036 = 212.6 kPa
Langkah 2
Plot Grafik & Cari Parameter
Kita plot titik (σ, τ): (13.6, 87.1), (27.2, 149.9), (40.8, 212.6). Tarik garis lurus terbaik (regresi linier) yang nyentuh semua titik.
-
Intersep (c): Nilai τ saat σ = 0. Dari perhitungan regresi, misal dapet c ≈ 22 kPa. Artinya tanah punya kohesi 22 kPa.
-
Sudut Kemiringan (φ): Kemiringan garis itu = tan φ. Misal dari hitungan dapet kemiringan ≈ 0.666. Maka, φ = arctan(0.666) ≈ 33.7°.
Jadi, persamaan kekuatan geser tanah ini: τ = 22 + σ tan(33.7°).
Langkah 3
Aplikasi ke Stabilitas Lereng
Nilai c=22 kPa dan φ=33.7° ini langsung kita masukin ke software analisis stabilitas lereng (seperti Geostudio, PLAXIS, atau metode manual Bishop/Fellenius). Software akan iterate berbagai bidang keruntuhan potensial dan hitung Faktor Keamanan (FK).
-
FK > 1.5 (umumnya): Lereng dianggap aman dan stabil.
-
FK ≈ 1.0 – 1.2: Lereng dalam kondisi limit atau kritis, butuh perkuatan.
-
FK < 1.0: Lereng tidak stabil, berpotensi longsor.
Kapan Direct Shear Test Digunakan
Berikut ini direct shear test di gunakan di beberapa kondisi spesifik ini:
Pas lagi Deadline Mepet & Butuh Data Cepet
Ini tes yang relatif simpel dan cepat, jadi cocok buat preliminary study atau nge-cek kondisi tanah awal sebelum investigasi lanjutan.
Fokus Utama Geser
Kalo analisis kita lebih concern sama potensi kegagalan geser (kayak tanah ngeser di bidang tertentu) daripada penurunan, tes ini langsung to the point ngasih parameter yang kita butuhin (c dan φ).
Ngolah Tanah Kohesif atau Campuran
Tes ini works well buat tanah berbutir halus kayak lempung, atau tanah campuran pasir-lempung, buat nge-evaluasi sifat kohesif dan friksionalnya sekaligus.
Validasi Back-analysis Longsoran Eksisting
Pernah ada lereng yang udah fail? Sampel tanah dari bidang longsor bisa diuji buat nge-reverse engineer parameter kekuatannya dan cari tahu penyebab keruntuhannya.
Quality Control Material Timbunan
Misal mau nimbun tanah buat tanggul atau pondasi, tes ini bisa dipake buat nge-cek apakah material timbunan yang dipasok udah memenuhi spesifikasi kuat geser yang udah ditentukan.
Tips Menggunakan Data Direct Shear Test
Berikut tips pake data direct shear test biar ga salah interpretasi:
Cross-Check Kondisi Asli vs Kondisi Lab
Data itu didapat di kondisi undisturbed atau remolded? Sesuaikan interpretasinya. Nilai untuk tanah asli yang belum disturb pasti beda sama tanah yang udah diremix. Jangan sampe salah pakai.
Jangan Asal Anggap Representatif
Sampel tanah tuh bisa aja variatif dalam satu lokasi. Data dari satu titik uji aja belum tentu mewakili seluruh area. Selalu consider variabilitas tanah di lapangan.
Pahami Batasan Metode
Tes ini ngeforce bidang geser di lokasi tertentu, yang di lapangan bisa aja beda. Hasilnya valid untuk analisis pendekatan, tapi untuk kasus kompleks, mungkin butuh konfirmasi dari tes lain kayak Triaxial.
Gunakan Safety Factor yang Reasonable
Nilai c dan φ dari lab itu peak strength. Di alam, tanah nggak selalu dalam kondisi peak. Selalu aplikasikan factor of safety yang sesuai sama tingkat risiko dan regulasi proyek sahabat konsultan.
Konsultasi dengan Ahli Geoteknik
Data angka mentah nggak bisa jalan sendiri. Diskusiin sama expert untuk ngehubungin hasil lab dengan kondisi geologi, drainase, dan beban dinamis di lapangan. Mereka bisa baca hidden story di balik grafiknya.

