Standar Green Steel 2026, ini Pembahasan LESS dan Sertifikasi Baja Ramah Lingkungan - Konsultanpemetan.com

Standar Green Steel 2026, ini Pembahasan LESS dan Sertifikasi Baja Ramah Lingkungan

Standar Green Steel 2026, ini Pembahasan LESS dan Sertifikasi Baja Ramah Lingkungan

konsultanpemetaan.com – Hai, sahabat konsultan pasti serinf dengerkan soal Green Steel?Tahun 2026 ini, baja ramah lingkungan udah masuk ranah teknis dan wajib ada sertifikasinya. Biar ga kena green washing, PT. Digital Global Eksplorasi sudah ngumpulkan nih info buat kita bahas tuntas standar green steel 2026, Yuk simak bareng!

Apa Itu Green Steel?

Green Steel tuh baja yang proses produksinya ga bikin bumi nangis. Jejak karbonnya jauh lebih rendah dibanding metode lama BF-BOF yang emisinya gila-gilaan. Caranya pake teknologi bersih kayak Electric Arc Furnace buat daur ulang besi skrap, atau yang paling canggih pakai hidrogen hijau produk sampingannya uap air, bukan CO2. Kualitas fisiknya sama, cuma prosesnya lebih sustainable.

Apa itu LESS dan Kenapa Penting Buat Green Steel?

LESS tuh sistem klasifikasi baja rendah karbon bikinan Jerman. Levelnya ada lima, dari “Low Emissions” sampai “Near Zero”. Penilaiannya based on emisi CO2 dan persentase skrap. Semua data diaudit TÜV biar kredibel. Kenapa LESS  bisa penting buat baja ijo, Berikut ini alasan yang sudah di rangkum PT. Digital Global Eksplorasi dari berbagai sumber terpercaya:

See also  Konsultan Perizinan Tambang Galian C Hingga Izin Terbit, Global Eksplorasi Rekomendasinya

Anti Greenwashing

LESS mewajibkan pabrik buka-bukaan data emisi dan skrap, diaudit  ma lembaga kayak TUV NORD. Konsumen bisa tau nih mana baja beneran ijo atau cuma catnya doang.

Tiket Masuk Eropa

Adanya CBAM dan aturan publik yang bikin LESS jadi syarat wajib tender proyek publik di eropa. Kalo sahabat konsultan punya sertifikat LESS berarti sahabat konsultan punya akses ke pasar besar eropa.

Bahasa Seragam Biar Fair

LESS lagi gencar-gencarnya buat interoperability sama standar global kayak ResponsibleSteel, Supaya standar bisa nyambung semua jadi ga ada standar sendiri-sendiri tiap negara dan tim procurement bisa ngebandingin kinerja emisi secara apple-to-apple

Bikin Investor & Konsumen Pede

Data LESS yang terverifikasi jadi amunisi kuat buat narik investor. Konsumen kayak pabrikan mobil juga bisa pede klaim produknya pake baja rendah emisi karena pemasoknya udah jelas sertifikasinya.

Ada Level Transisi yang Jelas

LESS gak asal cap ijo atau ga. Dari Kategori A sampai Near Zero, pabrik bisa nunjukin progress. Pembeli bisa milih level kehijauan sesuai target reduksi emisi masing-masing.

Teknologi Produksi Green Steel

Berikut ini PT. Digital Global Eksplorasi sudah meriset teknologi yang di pake buat hasilin baja ijo:

Hidrogen Hijau buat Direct Reduced Iron

Teknologi DRI pake hidrogen hijau buat ngurangin bijih besi, produk sampingannya uap air, bukan CO2 . Pabrik kayak Stegra di Swedia udah mau mulai operasi 2026 dengan konsep ini bener-bener zero carbon .

Electric Arc Furnace plus Skrap

Teknologi daur ulang yang udah umum tapi makin relevan. EAF bisa melebur besi bekas pake listrik, emisinya jauh lebih rendah dari tanur tinggi . China bahkan udah uji coba EAF 220 ton buat produksi baja otomotif .

See also  Karir di Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Kalimantan Tebaru 2026, Dari Fresh Graduate Hingga Profesional

Carbon Capture buat Pabrik Eksisting.

Buat pabrik yang masih pake tanur tinggi, CCUS jadi penyelamat. Teknologi DISPLACE dan CASOH bisa nangkep sampe 90% CO2 dari gas buang pabrik baja . China juga udah komisioning proyek CCUS di pabrik HBIS buat nangkep emisi .

Elektrolisis Langsung

Teknologi masa depan yang lagi dikembangin. Molten Oxide Electrolysis (MOE) bisa produksi baja langsung dari bijih besi pake listrik, tanpa perlu hidrogen . Di Australia, startup Element Zero lagi uji coba teknologi elektrokimia buat green iron .

DRI Hybrid

Pabrik bisa mulai pake gas alam dulu, terus gradual naikin persentase hidrogen sampe 100% . Oman jadi contoh, pabrik DRI di sana wajib pake 15% hidrogen dari hari pertama . Midrex Flex bahkan udah siap support hidrogen sampe 100% .

Sertifikasi Baja Ramah Lingkungan 2026

Buat sertifikasinya PT. Digital Global Eksplorasi udah ngumpulin info dari berbagai sumber dan dirangkum dalam bentuk tabel, Berikut ini sertifikasi baja ramah lingkungan terbaru 2026:

Nama Standar Penerbit/Asal Fokus Utama Sistem Penilaian Keunikan
ResponsibleSteel Internasional ESG komplit: emisi + hak pekerja + biodiversity + tata kelola 4 Progress Levels dari Core sampe Level 4 (Near Zero) Satu-satunya standar yang ngurusin aspek sosial dan lingkungan secara holistik; sertifikasi site dan product
GSCC Global Steel Climate Council Dekarbonisasi jangka panjang berbasis sains Product-based pathways dengan benchmark numerik yang decline tiap tahun Satu-satunya program yang gabungin corporate-wide action sama product certification; teknologi-netral
IEA Near-Zero International Energy Agency Definisi near-zero buat G7 Threshold based on scrap ratio (0% scrap: 400kg CO2e/t) Jadi acuan dasar banyak standar lain; fokus di crude steel stage
Climate Bonds Initiative Internasional (CBI) Sertifikasi obligasi hijau buat industri baja Sliding scale based on year (2020-2050) Pake pendekatan temporal; makin ke 2050 threshold makin ketat
C2F (China) CISA + Baowu Standar nasional China 5 level dari A (0.4t CO2e) sampe E Pake metode scrap-variable yang diakui G7; interoperable sama LESS dan ResponsibleSteel
India Green Steel Kementerian Steel India Rating nasional buat pasar domestik Bintang 3-5 berdasarkan emisi (1.6 – 2.2 t CO2) Support PLI scheme bantu eksportir comply CBAM
See also  Cara Menentukan Harga Sub Bottom Profilling untuk Perairan, ini Biaya Per Hektarnya

Tantangan Penerapan Green Steel di Indonesia

Meski prospeknya lumayan tetapi penerapan green steel di indonesia masih ada hambatannya. Disini PT. Digital Global Eksplorasi telah ngerangkum tantangan apa saja yang dihadapi buat penerapan green steel di indonesia. Beriku ini tantangannya:

Teknologi Masih Intensif Karbon

Kebanyakan pabrik baja RI masih pake BF-BOF yang boros emisi. Ganti ke teknologi hijau kayak EAF atau H-DRI butuh modal gede, apalagi hidrogen hijau masih 10 kali lebih mahal dari gas alam. Industri terancam carbon lock-in.

Pasokan Skrap Terganggu

Impor skrap dihentikan sementara pasca insiden radioaktif Cesium-137 di Cikande. Padahal industri nasional ketergantungan sama impor karena skrap lokal terbatas. Operasional pabrik terancam, PHK mengintai.

Pasar Domestik Ogah Bayar Maha

Harga green steel lebih gede dari baja biasa, tapi konsumen lokal masih milih yang murah. Impor murah dari China juga bikin kompetisi ga adil buat produsen lokal yang udah berusaha hijau.

Regulasi Masih Ruwet

Belum ada kebijakan terintegrasi kayak green taxonomy. Standar Industri Hijau (SIH) dari Kemenperin masih lemahn belum wajib verifikasi pihak ketiga atau akuntansi Scope 3. Arah kebijakan juga ga konsisten.

Hidrogen Domestik Belum Siap

Studi bilang produksi hidrogen dalam negeri cuma bisa penuhi 20-77% kebutuhan industri baja. Industri pupuk masih pake buat sendiri, sektor listrik baru uji coba geothermal skala kecil.

Kesimpulan

Sahabat konsultan Green Steel 2026 itu udah wajib tersertifikasi bukan sekadar tren. LESS jadi standar utama buat ukur kehijauan produk baja. Teknologi produksi macem-macem, dari hidrogen sampe CCUS. Tapi di Indonesia masih banyak PR: teknologi lama, pasokan skrap bermasalah, pasar ogah bayar mahal, regulasi ruwet, hidrogen belum siap. PT. Digital Global Eksplorasi nyimpulin transisi ini butuh kolaborasi semua pihak biar gas pol kejar ketertinggalan.